Batasan Aurat Laki-laki

Aurat adalah setiap bagian dari
tubuh yang wajib ditutup dan
haram hukumnya untuk
dinampakkan atau diperlihatkan
kepada orang lain, baik di dalam
maupun di luar shalat.
Jumhur fuqaha’ telah bersepakat
bahwa aurat bagi kaum laki-laki
adalah antara pusar sampai
dengan lutut. Namun mereka
berselisih apakah pusar dan lutut
itu sendiri termasuk aurat
ataukah tidak? Meski demikian
mereka tidak berselisih bahwa
paha adalah aurat. (1)
Imam Nawawi rahimahullah di
dalam penjelasan Shahih Muslim
sebagai berikut: “Sesungguhnya
paha termasuk bagian dari aurat.
Banyak hadits masyhur yang
menjelaskan bahwa paha adalah
termasuk aurat. Hal itu seperti
hadits Anas radhiyallahu ‘anhu
bahwa jika terbukanya paha
tanpa unsur kesengajaan serta
dalam kondisi darurat masih
dapat dimaafkan. Tetapi bila
masih ada sarana yang
memungkinkan untuk
menutupnya, maka hukumnya
wajib untuk menutupnya. ”
Sayangnya perkara ini telah
banyak dilupakan kaum pria.
Mereka dengan santainya
beraktifitas di luar rumah hanya
bercelana pendek dan
menampakkan paha-paha
mereka.
Seorang lelaki yang baligh
diperintahkan baginya menutup
aurat sebagaimana hal ini telah
jelas wajibnya bagi kaum wanita.
Dari sini bisa dipetik faedah,
bahwa adanya perintah tentu
berkonsekuensi timbulnya
larangan. Maka, kita
diperintahkan untuk menutup
aurat dan dilarang untuk
menampakkan ataupun melihat
aurat orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
“ Seorang lelaki tidak boleh
melihat aurat laki-laki yang lain
dan seorang wanita tidak boleh
melihat aurat wanita lain. ” (HR.
Muslim no. 338)
Hal ini dikarenakan memandang
aurat orang lain bisa
menimbulkan fitnah yang keji,
sehingga Allah Azza wa Jalla
memerintahkan kita untuk
menundukkan pandangan. Allah
Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-
laki yang beriman: Hendaklah
mereka menahan pandangannya
dan memelihara kemaluannya;
yang demikian itu adalah lebih
suci bagi mereka, sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka perbuat.” (An-
Nuur: 30)
Demikian pula Allah Azza wa
Jalla memerintahkan hamba-
hamba-Nya yang wanita:
“Katakanlah kepada wanita yang
beriman: Hendaklah mereka
menahan pandangannya dan
memelihara kemaluannya, dan
janganlah menampakkan
perhiasannya, kecuali yang
(biasa) nampak
daripadanya.” (An-Nuur: 31)
Ibnu Katsir rahimahullah berkata
di dalam tafsirnya menjelaskan
tentang ayat ini: “Ini adalah
hukum Allah Subhanahu wa
Ta ’ala kepada hamba-Nya
orang-orang mukmin untuk
menundukkan pandangan
mereka terhadap apa-apa yang
dilarang memandangnya. Kecuali
memandang apa yang
diperbolehkan memandangnya,
hendaklah mereka
menundukkan pandangan
mereka terhadap apa yang
diharamkan. Tetapi bila tidak
sengaja memandang, hendaklah
segera memalingkan pandangan
darinya. Allah juga menyuruh
untuk menjaga kemaluan
sebagaimana Dia menyuruh
menjaga pandangan yang
membangkitkan nafsu syahwat,
karena keduanya akan
mengarah kepada kerusakan
hati dan akhlak. Menjaga
pandangan mata dan kemaluan
akan mencegah dan menjauhkan
orang mukmin dari zina yang
keji. ” (Tafsir Ibnu Katsir)
Dalam permasalahan ini (aurat
laki-laki), Ibnu ‘Abbas
radhiyallahu ‘anhuma berkata,
bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda, “Paha
termasuk bagian dari
aurat. ” (HR. Bukhari)
Dari Muhammad bin Abdullah
bin Jahsy radhiyallahu ‘anhu
bahwasanya di halaman masjid,
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam
lewat di depan Ma’mar dan
terbukalah ujung paha Ma’mar.
Maka Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wasallam bersabda,
“Tutuplah pahamu wahai
Ma’mar, karena sesungguhnya
paha itu adalah termasuk
aurat. ” (HR. Ahmad)
Bahkan didapati pula larangan
melihat aurat orang yang sudah
mati. Dari Ali bin Abi Thalib
radhiyallahu ‘anhu berkata
bahwa Rasulullah shallallahu
‘ alaihi wasallam bersabda,
“Janganlah kau buka pahamu,
dan janganlah kau melihatnya
baik orang yang sudah mati
ataupun yang masih hidup. ” (HR.
Abu Daud)
Namun diperbolehkan bagi laki-
laki memperlihatkan auratnya
kepada isteri dan budak
perempuan yang dimilikinya. Hal
ini berdasarkan firman Allah
Subhanahu wa Ta ’ala:
“Dan orang-orang yang menjaga
kemaluannya, kecuali terhadap
istri-istri atau budak yang mereka
miliki; maka sesungguhnya
mereka dalam hal ini tiada
tercela. ” (Al-Mu’minun: 5-6)
Demikianlah, sehingga tak pantas
bagi seorang mukmin yang telah
mengetahui agamanya ia
melalaikan perkara ini.
Selayaknya ia menutup pahanya
karena ini adalah perintah
agama.
Wallahu a’lam bish-shawab.
(Diringkas dari Adab Berpakaian
Pemuda Islam karya Ahmad
Hasan Karzun, penerbit Darul
Falah hal. 56-66)

About ibnubadar

seorang hamba yang masih banyak memiliki kekurangan. Tak ada manusia yang sempurna.

Posted on 10/03/2011, in Uncategorized. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: